artikel

Sabtu, 30 November 2013

Kumpulan "Gambar Mengenai Gender"

Sosok Kartini Dan kesetaraan Gender
Raden Ajeng Kartini adalah pahlawan wanita Indonesia yang memperjuangkan emansipasi wanita. Dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879, Kartini adalah seorang putri dari bangsawan Jawa. Ia hanya dapat merasakan bangku sekolah sampai umur 12 tahun, karena pada saat itu wanita tidak boleh berpendidikan lebih tinggi dari pria.

Untuk mengisi kesehariannya Kartini banyak menulis surat kepada teman-temannya yang berasal dari Belanda. Dalam surat-suratnya ia banyak menuangkan pikiran-pikirannya tentang masalah wanita Indonesia, seperti rendahnya status sosial wanita, hak tidak dapat menuntut ilmu, harus rela dinikahkan dan dimadu. Ia pun banyak mendapat informasi tentang kemajuan berpikir wanita di Eropa, sehingga timbul keinginan Kartini untuk menaikkan derajat wanita. Ia ingin agar wanita di negaranya juga mempunyai hak untuk menuntut ilmu, agar dapat berpikir maju. Ia pun mendirikan sekolah-sekolah wanita.
Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru di Belanda terhalang karena ia harus menikah pada 12 November 1903. Namun setelah beberapa hari melahirkan anak pertamanya. Kartini meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 di usia 25 tahun. Surat-surat yang pernah ditulis dan dikirimkan Kartini kepada teman-temannya kemudian dikumpulkan dan di jadikan sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku ini memberikan inspirasi kepada kaum wanita di daerah lain untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Sejak saat itu banyak berdiri Sekolah Kartini hingga wanita bisa menyamakan hak mereka dengan pria. Untuk mengenang jasa-jasa Kartini maka ditetapkanlah hari lahir Kartini, tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.


CUT NYAK DIEN

Wanita kelahiran Keuruetoe Aceh Utara, tahun 1870 ini adalah seorang pahlawan Kemerdekaan Nasional yang hingga titik darah penghabisan tetap memegang prinsip tak akan mau tunduk kepada kolonial.
Sebelum Cut Nyak Meutia lahir, pasukan Belanda sudah menduduki daerah Aceh yang digelari Serambi Mekkah. Perlakuan Belanda yang semena-mena dengan berbagai pemaksaan dan penyiksaan akhimya menimbulkan perlawanan dari rakyat.

Tiga tahun sebelum perang Belanda meletus, ketika itulah Cut Nyak
Meutia dilahirkan. Suasana perang pada saat kelahiran dan perkembangannya itu, di kemudian hari sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya.

Awalnya Cut Nyak Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Cik DiTunong. Namun padabulan Maret 1905, Cik Tunong berhasil ditangkap oleh Belanda dan dihukum mati di Tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Cik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nanggroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi

Cut Nyak Meutia menuruti pesan suaminya dan menikah dengan Pang Nanggroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada satu pertempuran dengan Korps Marsose di Paya Cicem, Cut Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan.

Sedangkan Suaminya Pang Nanggroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910.
Cut Meutia lalu bangkit dan melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Walaupun pasukan Belanda bersenjata api lengkap tapi itu tidak membuat hatinya kecut.

Dengan sebilah rencong di tangan, dia tetap melakukan perlawanan. Namun tiga orang tentara Belanda yang dekat dengannya melepaskan tembakan.
Dia pun gugur setelah sebuah pelum mengenai kepala dan dua buah lainnya mengenai dadanya pada tanggal 24 Oktober 1910.

Cut Nyak Meutia gugur dalam pertempuran tersebut sebagai pejuang pembela bangsa. Atas jasa dan pengorbanannya, oleh negara namanya dinobatkan sebagai pahlawan Kemerdekaan Nasional yang disahkan dengan SK Presiden RI No.107 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964.

DEWI SARTIKA


Perjuangannya dalam memberikan bekal ilmu pengetahuan dan pendidikan kepada masyarakat luas khususnya kaum perempuan, akhirnya membuahkan penghargaan yang luar biasa dari Pemerintah Republik Indonesia sebagai seorang Pahlawan Nasional di bidang pendidikan. Itulah Raden Dewi Sartika, sosok perempuan asli dari tanah Pasundan (Jawa Barat) yang semasa hidupnya banyak mengabdikan diri dalam dunia pendidikan terutama pendidikan bagi kaumnya sendiri dengan mendirikan sebuah sekolah bernama “Sakola Kautamaan Istri” (Sekolah Keutamaan Istri). Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu Tahun 2012, Redaksi Tabloid ‘Taman Pramuka’ pada edisi ke-XV, mencoba mengangkat kembali kilas balik sejarah Raden Dewi Sartika, sebagai salah satu tokoh perintis pendidikan di tanah air.
Dewi Sartika yang lahir di Bandung pada 4 Desember 1884 lalu, adalah anak dari pasangan Raden Somanagara dan Nyi Raden Rajapermas yang merupakan keturunan priyayi Sunda. Sejak kecil, Dewi Sartika telah mendapat pendidikan dasar dari orang tuanya dengan disekolahkan di sekolah Belanda. Namun saat ayahandanya wafat yang juga seorang pejuang kemerdekaan. Dewi Sartika kecilpun dirawat oleh pamannya yang tidak lain adalah seorang Patih di Cicalengka dan melanjutkan pendidikannya di sana. Ketika itulah, bakat sebagai seorang pendidik muncul dalam diri Dewi Sartika kecil, bila ada waktu senggang, Ia menyempatkan diri untuk mengajari baca-tulis anak-anak pembantu yang berada lingkungan kepatihan. Dalam pendidikannya, Dewi Sartika banyak pula mempelajari tentang wawasan kesundaan dari pamannya dan wawasan kebudayaan barat dari seorang Asisten  Residen bangsa Belanda




 PEREMPUAN DALAM PERJANJIAN LAMA
 
Dəḇôrāh, artinya "lebah") adalah seorang nabiah dan hakim perempuan satu-satunya dari zaman pra-kerajaan Israel di dalam Perjanjian Lama (Tanakh). Kisahnya diceritakan dalam dua pasal pada Kitab Hakim-hakim, yakni pasal 4 dan 5. Kisah pertama berbentuk prosa, yang menceritakan kemenangan pasukan Israel yang dipimpin oleh Jenderal Barak, yang dipanggil Debora namun ia bernubuat bahwa ia sendiri tidak akan menang melawan Jenderal Sisera, orang Kanaan. Kehormatan itu jatuh ke tangan Yael, istri Heber, seorang tukang tenda suku Keni. Yael membunuh Sisra dengan memakukan paku tenda di kepala Sisera ketika ia tidur.
Hakim-hakim 5 mengisahkan cerita yang sama dalam bentuk puisi. Bagian ini diduga disusun pada paruhan kedua dari abad ke-12 SM, tak lama setelah kejadian yang digambarkan tersebut. Bila demikian halnya, maka nas ini, yang sering disebut sebagai Nyanyian Debora, adalah bagian tertua di dalam Alkitab dan contoh yang paling awal yang masih tertinggal dari puisi Ibrani. Puisi ini juga penting karena ini adalah salah satu -- kalau bukan malah satu-satunya -- dari nas yang menggambarkan peranan perempuan bukan hanya sebagai korban atau sebagai penjahat. Puisi ini mungkin termasuk dalam Kitab Peperangan Tuhan yang disebutkan dalam Kitab Bilangan 21:14.



 KONSEP DEWI DALAM AGAMA HINDU
Bagi seorang Hindu pemujaan Tuhan dalam aspek keibuan atau feminisme merupakan sebuah pendekatan antar pemuja dengan yang dipuja. Hal  ini terjadi karena Hindu menganggap bahwa aspek keibuan atau feminisme bahwa Tuhan adalah penuh dengan kecantikan, kelembutan, pengampun dan sifat yang lain. Pemujaan Tuhan dalam bentuk sakti (unsur keibuan) telah mengakar dengan kuat diantara orang hindu, seperti adanya pemujaan Saraswati, Laksmi, Durga, Gayatri dan yang lainnya, ini merupakan lambang bahwa Tuhan dipuja sebagai aspek ibu mulia yang selalu mengasihi dan menyayangi para bhakta yang suci. Hal ini seperti dijelaskan dalam Bhagavad-Gita IX : 17 yang menyatakan bahwa : “Aku adalah ayah dan ibu dari jagad raya, dan Aku adalah pencipta dari semua. Aku adalah yang tertinggi yang diketahui, yang mensucikan, Om yang suci dan ketiga Veda”. (Nyoman S Pendit, 2000).

Berdasarkan sloka diatas bahwa pemujaan Tuhan dalam bentuk ibu atau sakti merupakan sebuah kontribusi yang menarik dalam Hindu. Sehingga seorang pemuja merasa nyaman dengan adanya ibu mulia, karena dalam pemujaan ibu mulia ini akan muncul tentang adanya kekuatan kedewataan yang ada dimana-mana  yang selalu memancarkan kasih sayang, kecerdasan dan kebijaksanaan. Hal ini dipertegas oleh pernyataan Svami Vivekananda “ Tidak mungkin bagi seekor burung untuk terbang hanya dengan satu sayap”(Bansi Pandit, 2006 : 56). Hal ini maksudnya adalah kedudukan atau posisi dari seorang perempuan sangatlah dihormati karena setiap perempuan adalah penjelmaam dari Ibu Mulia, sehingga Hindu menganggap bahwa laki-laki dan perempuan adalah dua sayap dalam satu burung yang sama (Ardhanareswarya).

Pemujaan Tuhan dalam aspek feminisme atau konsep Dewi merupakan pemujaan yang sudah dilakukan sejak zaman dahulu. Karena dalam pandangan hindu jagad raya ini merupakan manifestasi dari kekuatan yang kreatif dari Brahman yang berupa Sat-Cit-Ananda (keberadaan mutlak, kesadaran dan kebahagiaan). Karena daya kratif dalam umat Hindu disadari oleh umat hindu sebagai prinsip keibuan dalam aspek alaminya. Pemujaan Tuhan dalam aspek sakti dewi terlihat sebagai berikut :

Dewi Parwati

Dalam pantheon Hindu, dewa-dewa seperti juga manusia mempunyai sakti atau istri, dan putra-putri. Kitab-kitab Puràóa menyebutkan bahwa Úiva mempunyai istri (=sakti) dalam berbagai wujud sesuai dengan perwujudan Úiva sendiri. Perwujudan tersebut selalu disesuaikan dengan sifatnya yang ganda, yaitu ada yang berwujud santa, dan ada pula yang raudra (Dowson, 1953: 86-87). Dalam wujudnya yang santa sakti Siva dikenal dengan nama Pàrvatì (Dowson, 1953: 86, Liebert, 1976: 215).  Cerita tentang kelahiran Pàrvatì terdapat dalam kitab Devibhagavata Puràna. Diceritakan bahwa Satì, putri Daksa adalah seorang wanita berbudi dan istri yang sangat mengabdi. Suatu hari Satì mendengar bahwa suaminya, Siva dihina oleh ayahnya. Untuk mempertahankan kehormatan suaminya ia kemudian menerjunkan diri ke dalam api. Satì kemudian lahir kembali sebagai putri Himavan dan Mena atau Menaka yang diberi nama Pàrvatì.

Setelah kematian Satì, Úiva tidak merasa tertarik pada wanita, termasuk Pàrvatì. Siva lebih senang bertapa. Hal ini sangat mencemaskan para dewa, sebab hanya keturunan Siva sajalah yang dapat melawan asura yang datang menyerang kedewaan. Untuk itu para dewa berusaha membujuk Siva agar mau menikahi Pàrvatì, namun sebelumnya Siva ingin menguji keteguhan Pàrvatì.
Kitab Varaha Puràóa menceritakan bagaimana Úiva menguji keteguhan hati Pàrvatì. Diceritakan bahwa Pàrvatì, yang titisan Satì, istri Úiva sangat rindu kepada suaminya, hari-hari dilaluinya dengan berhias diri, menyanyi dan menari menunggu kedatangan Úiva. Tetapi ia sangat kecewa, karena Úiva tidak tertarik kepada dirinya. Untuk menarik perhatian Siva Pàrvatì kemudian melakukan pemujaan kepada Siva, namun hal inipun tidak membawa hasil. Dalam keputusannya ia menyiksa dirinya dengan cara berbaring di atas es berhari-hari. Setelah sekian lama, pada suatu hari datang seorang Bràhmana tua kepadanya dan menanyakan mengapa ia melakukan hal demikian. Sang Brahmà tertawa ketika Pàrvatì mengatakan bahwa ia mencintai dan ingin menikah dengan Siva. Untuk menguji Pàrvatì, Bràhmana tua itu menjelek-jelekan Siva, namun Pàrvatì tidak percaya, dan marah karena Siva dihina. Dia membantah sambil menutup kedua telinganya. Pada saat itu juga, Bràhmana yang tidak lain adalah Úiva memperlihatkan dirinya yang sebenarnya kepada Pàrvatì. Úiva kemudian meminta agar Pàrvatì menghentikan Penyiksaan dirinya. Pada akhirnya Pàrvatì dan Úiva menikah dengan upacara yang sangat meriah.

Menurut kitab Uttara Kàmikàgamà, Pàrvatì digambarkan bertangan dua atau empat. Kedua tangan Pàrvatì digambarkan membawa nilotpala dan darpana. Apabila digambarkan bersama Siva, maka Pàrvatì dilukiskan bertangan dua, tangan kanan memegang nilotpala, atau dalam sikap simhakarna, dan tangan kiri menggantung di samping atau memeluk Siva. Pàrvatì digambarkan dalam sikap berdiri atau duduk di sebelah kiri atau kanan Siva. Ia mengenakan perhiasan berupa phalapatta (ikat dahi), karandamakuta atau kesabandha. Menurut kitab Uttara Kàmikàgama apabila Pàrvatì digambarkan tanpa Siva maka umumnya digambarkan bertangan empat. Dua tangan bagian depan dalam sikap varadahasta dan abhayahasta, sedangkan kedua tangan belakang memegang padma dan nilotpala, atau pàsa dan ankusa atau tanka. Wajah Pàrvatì umumnya digambarkan sàntà, mempunyai tiga buah mata (satu diatas dahi). Digambarkan duduk atau berdiri di atas padmàsana. Pàrvatì digambarkan mengenakan perhiasan lengkap. Kepalanya mengenakan jatàmakuta atau karandamakuta.

Di atas telah diuraikan bahwa Pàrvatì dapat digambarkan dalam bentuk sendiri, atau bersama Siva. Di dalam kitab-kitab Àgama diuraikan juga penggambaran Pàrvatì dalam komposisi perkawinan keduanya. Dalam ikonografi Hindu bentuk perkawinan antara Siva dan Pàrvatì, digambarkan dengan cara Pàrvat­ì berdiri di sebelah kiri Siva, berwarna hitam, bermata dua, dan bertangan dua. Tangan kanannya digambarkan diulurkan untuk menerima tangan Siva, sedangkan tangan kiri memegang nilotpala. Sikap kepala agak menunduk karena malu, menggambarkan seorang gadis yang bertubuh sintal (montok) yang mengenakan perhiasan raya sesuai dengan peristiwa tersebut. Adapun Siva digambarkan dalam sikap tribanga, kaki kiri tegak dan kaki kanan agak ditekuk,  atau dapat juga sebaliknya. Digambarkan bertangan empat, mempunyai mata ketiga. Tangan kanan depan diulurkan untuk menerima tangan Pàrvatì, tangan kiri dalam sikap varada, tangan kanan belakang memegang parasu, dan tangan kiri belakang membawa mrga. Kepalanya mengenakan jattàmakuta dengan hiasan bulan sabit. Mengenakan hiasan berupa hàra, keyùra, udarabandha, dan kàncidàma. Ular Vasuki digunakan sebagai sarpa-kuóîala, Taksaka sebagai ikat pinggang, dan Puskara sebagai hàra. Siva digambarkan sebagai pemuda dewasa. Selain digambarkan Pàrvatì dan Siva juga digambarkan dewa-dewa dan dewi-dewi kahyangan dalam sikap gembira (Gopinatha Rao, 1968:338-343).

Berdasarkan urian diatas bahwa dewi dalam hindu menggambarkan adanya sakti atau kekuatan dari dewa, sehingga Parvati sebagai dewi merupakan sumber kekuatan dari Dewa Siva. Sehingga konsep sakti ini merupakan sebuah aragium yang berarti kekuatan dari dewa yang merupakan pasangannya, dalam hal ini adalah Siva.

SARASVATI

Kata Sarasvatì berasal dari urat kata “”yang artinya mengalir dan di dalam Veda Sarasvatì adalah nama devi sungai dan devi Ucap (pengetahuan atau kebijaksanaan).  Di dalam Ågveda V 75.3) disebutkan adanya 10 buah sungai sebagai dijelaskan pula oleh Yàkûa (Nirukta IX, 26) yang terdiri dari: Gaògà, Yamunà, Sarasvatì, Sutudrì, Paruúnì, Asiknì, Marudvådhà, Susomà dan Arjikiyà.  Tujuh di antara sungai itu disebut Saptasindhù.  Di dalam kitab-kitab Puràóa, Devi Sarasvatì di samping sebagai devi ilmu pengetahuan (kebijaksanaan) dan devi sungai adalah juga úakti dewa Brahmà. Ia digambarkan sebagai wanita cantik berkulit putih beåûih, perilakunya lemah lembut.  Bhúànanya putih gemerlapan dan duduk di atas sekuntum bunga teratai, memiliki empat tangan yang masing-masing memegang: Vina (kecapi), àkûamàlà (tasbih), damaru (kendang kecil) dan pustaka (buku). Atribut (lakûaóa) lain yang sering dibawa (dilukiskan di dalam seni arca) adalah: paúa (tali atau simpul), triúula (tongkat bercabang tiga), úangka (terompet dari kerang laut), cakram (cakram) dan lain-lain.
            Dalam puja mantram para pandita di Bali, sebagian penggambaran dewi Sarasvatì seperti tersebut masih dapat dijumpai, di samping umat Hindu di daerah Bali meyakini bahwa seluruh aksara (huruf) terlebih lagi huruf-huruf suci (Vijàkûara) adalah arca atau perwujudan dari dewi Sarasvatì, dan di dalam upakara atau sesajen, ciri khas persembahan kepada-Nya, berisi jajan yang menggambarkan seekor cecak dengan telornya. Kepercayaan kepada cecak atau kadal adalah kepercayaan yang sangat umum di kepulauan Austronesia termasuk Indonesia sebagai binatang yang sangat peka dan akan berbunyi bila suasananya hening atau suci dan bagi wanita dituntut kepadanya untuk mendekatkan diri kepada dewi Sarasvatì. Dalam mitologi Sarasvatì di samping sebagai sakti Brahmà juga merupakan dewi Kesenian dan kecantikan, serta dewi Ilmu Pengetahuan. Dewi ini mempunyai kedudukan sangat penting di antara dewa-dewi dari pantheon Brahmà. Ia dikenal juga sebagai Vàch, Vàgdevì, Vagìsvarì, Vànì, Saradà, Bhàratì dan Vinapanì. Suatu pemujaan terhadap keagungannya diadakan setiap tahun pada hari kelima bulan Magha, terutama di Bihar dan Bengal dipuja oleh para ilmuwan, musisi dan artis.

Di India Sarasvatì merupakan dewi yang dianggap penting, baik dalam Àgama Hindu, Buddha maupun Jaina. Dalam Àgama Jaina, Sarasvatì dianggap sebagai pemimpin Sruta-dewatà dan Vidya-devi. Dalam Àgama Buddha Sarasvatì dianggap sakti Mañjusrì. Dalam mitologi Hindu yang berkembang kemudian, Sarasvatì kadang-kadang dihubungkan dengan Viûóu sebagai Puûþi, yaitu salah seorang sakti-nya. Dewi Sarasvatì mempunyai latar belakang sejarah yang sangat penting. Dalam kitab suci Vêda, seperti telah diuraikan di atas, semula Sarasvatì adalah nama sebuah sungai, yang sering didipuja  melalui mantra-mantra pujaan.

Sarasvatì juga pada mulanya merupakan salah satu batas dari Brahmàvartta, asal bangsa Arya yang berwujud sungai. Ia dianggap mempunyai kekuatan sebagai pUúàt kesuburan dan kesucian. Selain itu Sarasvatì dianggap sebagai dewi bahasa, yaitu sebagai penemu bahasa Sansekerta dan huruf dewa-nàgari, pelindung dari kesenian dan ilmu pengetahuan. Seperti dewi-dewi lain, sebagai sakti dewamanifestasi utama Tuhan yang Maha Esa, Sarasvatì pun mempunyai nama lain, di antaranya adalah Bhàratì, Brahmì, Putkarì, dan Saradà. Di Bali (Indonesia) dipuja setiap 210 hari sekali, yakni para hari terakhir dari penanggalan Wuku terakhir, yakni Saniúcara Umanis Wuku Watugunung dan hari pertama Wuku pertama pada hari Redita Pahing Sinta, dalam kalender Nusàntara, Bali-Jawa, dikaitkan dengan pemujaan kepada dewi Srì dan Laksmì dan Paramestii Guru yang mengingatkan kita pada pelaksanaan hari raya Durgàpùjà di India, khususnya di India Timur (Benggala).

Jadi, Saraswati merupakan aspek pemujaan Tuhan sebagai ilmu pengetahuan, dalam hal ini adanya wujud sakti (kekuatan) dari dewa brahma yang bertugas dalam menciptakan. Dengan demikian ketika Dewa Brahma mencipta maka yang menjadi kekuatan dalam menciptakan itu adalah pengetahuan untuk menciptakan. Selain itu, ketika dikaitkan dengan pemujaan adalah ketika seseorang memuja Tuhan dalam aspeknya sebagai Dewi Saraswati maka anugrah pengetahuanlah yang akan diperoleh seseorang untuk menuju kebijaksanaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar